Donasi Palestina - Harian Sriwijaya Donasi Palestina - Harian Sriwijaya Donasi Palestina - Harian Sriwijaya
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Disclaimer
  • Pasang Iklan
Senin, 10 Agu 2026
Harian Sriwijaya
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Sumsel
    • Palembang
    • Lubuklinggau
    • Musi Rawas
    • Musi Rawas Utara
    • Prabumulih
    • Pagaralam
    • Banyuasin
    • Musi Banyuasin
    • Empat Lawang
    • Muara Enim
    • Ogan Ilir
    • OKI
    • OKU
  • Advertorial
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Kriminal
  • Viral
  • Loker
  • Opini
  • Lainya
    • Teknologi
    • Finance
    • Kesehatan
    • Wisata
    • Kuliner
    • Otomotif
    • Gaya Hidup
    • Hiburan
  • Home
  • Nasional
  • Sumsel
    • Palembang
    • Lubuklinggau
    • Musi Rawas
    • Musi Rawas Utara
    • Prabumulih
    • Pagaralam
    • Banyuasin
    • Musi Banyuasin
    • Empat Lawang
    • Muara Enim
    • Ogan Ilir
    • OKI
    • OKU
  • Advertorial
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Kriminal
  • Viral
  • Loker
  • Opini
  • Lainya
    • Teknologi
    • Finance
    • Kesehatan
    • Wisata
    • Kuliner
    • Otomotif
    • Gaya Hidup
    • Hiburan
No Result
View All Result
Harian Sriwijaya
No Result
View All Result
  • Nasional
  • Sumsel
  • Advertorial
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Kriminal
  • Viral
  • Loker
  • Opini
  • Teknologi
  • Finance
  • Otomotif
  • Wisata
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
ADVERTISEMENT
Home Advertorial

Protein Tinggi Belum Tentu Efisien: Sesuaikan Pakan Vaname dengan Umur Tebar

Redaksi Harian Sriwijaya by Redaksi Harian Sriwijaya
3 minggu ago
in Advertorial
Protein Tinggi Belum Tentu Efisien: Sesuaikan Pakan Vaname dengan Umur Tebar
0
SHARES
2
VIEWS
ADVERTISEMENT

Hariansriwijaya.com – Ada keyakinan yang masih beredar luas di kalangan pembudidaya udang vaname, bahwa semakin tinggi kandungan protein pakan, semakin cepat udang tumbuh besar. Logikanya terdengar masuk akal, sebab protein memang bahan baku utama pembentuk daging. Namun di lapangan, keyakinan ini sering berakhir dengan kuitansi pakan yang membengkak tanpa hasil yang sepadan. Pakan berprotein 40 persen yang ditebar di kolam berisi udang umur dua bulan bukan jaminan panen lebih cepat, justru sebagian besar nitrogennya berakhir mencemari air karena tubuh udang tidak sanggup menyerap semuanya.

Persoalannya terletak pada satu fakta biologis sederhana: kebutuhan protein udang berubah sepanjang siklus hidupnya. Udang yang baru lepas dari fase larva memiliki laju pertumbuhan relatif terhadap bobot tubuh yang sangat tinggi, sehingga ia memang menuntut pakan padat protein, kerap di kisaran 38 hingga 40 persen. Tetapi begitu udang membesar, proporsi energi yang dipakai untuk tumbuh menurun, sementara kebutuhan energi untuk aktivitas dan pemeliharaan tubuh naik. Memberi protein tinggi terus-menerus di fase ini sama saja membayar mahal untuk nutrisi yang sebagian besar dibuang.

Mari kita telusuri perjalanannya. Pada fase post-larva hingga awal pemeliharaan, udang masih sangat kecil, kadang baru sebesar PL10 sampai PL30. Di titik ini protein 38 sampai 40 persen wajar dan memang dibutuhkan, karena setiap miligram jaringan baru terbentuk dengan cepat. Pakan di fase ini juga harus berukuran sangat halus dan punya daya pikat kuat agar benur yang masih rapuh segera merespons. Salah memberi pakan terlalu kasar atau kurang menarik di fase ini bisa menekan tingkat kelangsungan hidup sejak awal.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Memasuki fase grow-out, ketika udang sudah melewati bobot satu hingga tiga gram dan terus naik, kebutuhan protein bergeser turun ke kisaran 32 sampai 35 persen. Bukan berarti udang butuh lebih sedikit nutrisi secara mutlak, melainkan komposisinya yang berubah. Di fase inilah biomassa di kolam melonjak dan konsumsi pakan harian membesar drastis, sehingga selisih beberapa persen protein dikalikan tonase pakan menjadi angka rupiah yang nyata. Bayangkan kolam berisi ratusan ribu udang yang setiap hari melahap puluhan kilogram pakan; selisih tiga persen protein yang sebenarnya tidak terpakai bisa berarti jutaan rupiah yang menguap dalam satu siklus saja. Protein berlebih yang tidak terserap akan keluar sebagai amonia, menambah beban kerja kincir dan menaikkan risiko kualitas air anjlok justru di saat udang paling rentan terhadap stres. Lebih buruk lagi, air yang sarat amonia menekan nafsu makan udang, sehingga pakan mahal yang sudah dibeli pun makin banyak tersisa di dasar kolam.

Menjelang panen, ceritanya berubah lagi. Pada fase pre-panen, fokusnya bukan lagi memacu pertumbuhan kerangka tubuh, melainkan mematangkan bobot akhir dan kualitas biomassa. Protein bisa diturunkan lagi sedikit, sementara perhatian beralih ke efisiensi konversi dan kondisi udang agar siap dipanen dengan rendemen baik. Memaksakan protein tinggi di dua minggu terakhir hampir tidak memberi tambahan pertumbuhan berarti, hanya menambah ongkos dan sisa nitrogen di air kolam yang sudah penuh sesak oleh biomassa.

BeritaTerkait

Koleksi Saham PANI di Makmur, Aplikasi Saham Terbaik

Rodri Lebih Dekat ke Barcelona, Ini 3 Alasan Gelandang Manchester City Tolak Real Madrid

Henrikh Mkhitaryan Bidik Liga Champions Bersama Inter Milan, Belum Mau Bicara Pensiun

Yang membuat soal ini penting secara ekonomi adalah posisi pakan sebagai komponen biaya terbesar budidaya vaname, lazimnya 50 hingga 60 persen dari total ongkos produksi. Maka memilih kadar protein yang tidak sesuai fase bukan kesalahan kecil, melainkan kebocoran yang menggerus margin setiap hari pemberian pakan. Efisiensi sejati datang bukan dari mengejar angka protein tertinggi, tetapi dari mencocokkan protein dengan apa yang benar-benar dibutuhkan udang di hari itu. Kelebihan protein bahkan punya efek ganda yang merugikan: uang terbuang di muka, lalu air tercemar nitrogen, lalu biaya tambahan muncul untuk memperbaiki kualitas air yang rusak.

Ada satu hal yang sering dilupakan. Protein yang lebih tinggi belum tentu lebih bermanfaat bila daya cernanya rendah atau pakannya cepat hancur di air. Udang hanya bisa memanfaatkan protein yang benar-benar masuk ke tubuhnya, bukan yang larut sebelum sempat disantap. Karena itu, kesesuaian fase harus dibaca bersama kualitas fisik pelet dan tingkat keterserapannya, bukan sekadar membandingkan angka di label kemasan.

ADVERTISEMENT

 

Di sinilah penyusunan pakan berbasis fase menjadi pegangan praktis. Pada fase post-larva, STP PV yang merupakan pakan Premium Value dirancang mendukung pertumbuhan awal dan transisi halus menuju grow-out. Saat udang menyeberang dari nursery ke grow-out, STP SGH hadir dengan formulasi yang menjaga kesehatan saluran cerna serta kapasitas antioksidan, dua hal yang menentukan seberapa baik udang menyerap nutrisi di fase rawan ini. Begitu masuk fase grow-out penuh dan target pertumbuhan maksimal, STP SGH MAX menawarkan daya pikat tinggi disertai dukungan imunitas dan kontrol stres, sehingga pakan benar-benar termakan dan tidak terbuang. Menjelang panen, STP TOV menutup siklus dengan fokus pada pencapaian bobot akhir dan kualitas biomassa. Jika Anda ingin menyusun rangkaian protein yang pas di setiap fase tanpa membayar berlebih untuk nutrisi yang tak terserap, telusuri pilihan pakan udang vaname dari STP Aquaculture yang sudah dikelompokkan mengikuti perjalanan udang dari tebar hingga panen

ShareSendSharePin
ADVERTISEMENT
Redaksi Harian Sriwijaya

Redaksi Harian Sriwijaya

Follow juga media sosial Harian Sriwijaya untuk mendapatkan informasi terupdate dan terpercaya

Berita Terkait

Koleksi Saham PANI di Makmur, Aplikasi Saham Terbaik

Koleksi Saham PANI di Makmur, Aplikasi Saham Terbaik

08 Agu 2026
Rodri Lebih Dekat ke Barcelona, Ini 3 Alasan Gelandang Manchester City Tolak Real Madrid

Rodri Lebih Dekat ke Barcelona, Ini 3 Alasan Gelandang Manchester City Tolak Real Madrid

07 Agu 2026
Henrikh Mkhitaryan Bidik Liga Champions Bersama Inter Milan, Belum Mau Bicara Pensiun

Henrikh Mkhitaryan Bidik Liga Champions Bersama Inter Milan, Belum Mau Bicara Pensiun

06 Agu 2026
Load More
Next Post
Per Mertesacker Masuk Bursa Calon Direktur Olahraga Timnas Jerman

Per Mertesacker Masuk Bursa Calon Direktur Olahraga Timnas Jerman

Beriklan di Harian Sriwijaya Beriklan di Harian Sriwijaya Beriklan di Harian Sriwijaya

Berita Populer

  • Password Laptop Jenny Summertime Saga

    Password Laptop Jenny Summertime Saga, dan Bagaimana Cara Membukanya?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 70 Akun PB Gratis, Cek Cara Mendapatkan Nya disini!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cara Edit Saldo M Banking, Ikuti Trik ini!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cara Minum Kopi Cleng Sebelum Berhubungan Agar Maksimal

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Inilah Penyebab dan Cara Mengatasi Akun Shopee Food Anyep

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 10 Merk HP Terlaris di Indonesia Tahun 2025, Penjualan nya Tertinggi!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Seedbacklink
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Pasang Iklan
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber

Copyright ©2026 Harian Sriwijaya - All rights reserved

No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Sumsel
    • Palembang
    • Lubuklinggau
    • Musi Rawas
    • Musi Rawas Utara
    • Prabumulih
    • Pagaralam
    • Banyuasin
    • Musi Banyuasin
    • Empat Lawang
    • Muara Enim
    • Ogan Ilir
    • Oki
    • Oku
  • Advertorial
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Kriminal
  • Viral
  • Opini
  • Loker
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Finance
    • Kesehatan
    • Wisata
    • Kuliner
    • Otomotif
    • Gaya Hidup
    • Hiburan
Seedbacklink Trusted Indonesian News aji

Copyright ©2026 Harian Sriwijaya - All rights reserved